6/30/2013

Dengan Satu Kaki, Budi Santoso Berkiprah Sebagai Relawan


Memiliki sepasang kaki adalah kenangan bagi Budi Santoso. Hari ini ia memilih bertahan dan melipatgandakan manfaat satu kakinya dengan berbagi. Berkiprah sebagai relawan Rumah Zakat menjadi pilihannya. Dengan ditemani sebuah tongkat, lelaki kelahiran Sidoarjo ini mengabdi sebagai relawan sejak 2011.
 
Sama seperti hari ini, Budi kecil amat lincah dan cekatan. Pada usia enam tahun, bermain di kebun tebu adalah kesukaannya. Setiap hari, ia bertemu dengan Kereta Lori pengangkut tebu. Ia dan segerombolan temannya berlarian mengambil tebu yang ada di Kereta Lori. Tak sengaja, Budi menginjak rel yang licin hingga terpeleset dan jatuh. Kakinya terlindas Kereta Lori hingga bagian atas pahanya remuk. Amputasi satu-satunya jalan terbaik yang harus diambil oleh dokter.
Setelah amputasi, dunia Budi tentu berubah. Ia tak bisa lagi berlari bersama teman-temannya. Tetapi perubahan itu tak menjadikan hambatan baginya untuk tetap maju. Memasuki bangku Sekolah Dasar, Budi mulai mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dirinya dan teman-temannya. "Kalau lagi main sepakbola saya gak kan bisa nendang, jadi saya ditaruh di posisi kiper. Saya bisa ikutan main meskipun akhirnya kebobolan juga hahaha!" kata Budi lepas.
Kehilangan sebelah kaki hanyalah kenangan yang sedikit buruk bagi lelaki yang sehari-hari menjadi takmir masjid ini. Pendidikannya terus berlanjut hingga ia menduduki bangku kuliah di jurusan Sosiologi UNESA. Ia mendapatkan informasi penerimaan relawan sebuah lembaga zakat dari seorang temannya. Keterbatasan tidak menyurutkan langkahnya untuk menjadi relawan. Ia diterima bergabung menjadi relawan tanpa banyak pertanyaan. “Saya bergabung menjadi relawan karena ingin lebih maksimal lagi dalam membantu sesama dan masyarakat yang membutuhkan,” ujar Budi Santoso.
Karakternya yang semangat, ceria, dan mudah bergaul menjadikannya selalu tampak bersinar. Ia aktif dalam NPC (National Paralympic Committee) Kota Surabaya, di bawahi KONI Surabaya. Organisasi ini menjadi wadah atlet-atlet yang memiliki kekurangan fisik. Dalam dua tahun terakhir Budi berhasil menaklukkan dua kejuaraan. Pada tahun 2012, ia mengikuti lomba lempar lembing khusus orang-orang berkebutuhan khusus Jawa Timur. Ia berhasil meraih peringkat dua. “Badan lawan saya besar sekali. Dia mantan tentara yang kakinya hancur karena terkena bom dan diamputasi. Badannya sudah benar-benar bagus dan terlatih, lebih besar dari saya. Itulah mengapa saya hanya menjadi juara dua,” ujar Budi sambil tertawa.
Pertengahan tahun ini, tepatnya 13 Juni 2013, Budi berhasil menggondol juara satu dalam lomba lari. Kakinya yang hanya satu membawanya memenangkan kejuaraan lari, satu hal yang dikhawatirkan tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang kehilangan kaki.
Kata “terbatas” sudah hilang dari kamus kehidupan Budi. Itulah sebabnya ia menyukai travelling, backpacker, dan touring. Kiprahnya sebagai relawan membuatnya dapat mengunjungi berbagai tempat untuk membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial. “Saya suka menjadi relawan Rumah Zakat. Di sini saya mendapat keluarga baru, pengalaman baru, banyak ilmu baru yang tidak saya dapatkan di kampus. Saya juga dapat terjun langsung ke masyarakat,” ujar Budi.
Keaktifannya dalam berkiprah menjadi relawan membawanya terpilih menjadi salah satu relawan Rumah Zakat Surabaya yang mengikuti Dreambook Training yang diselenggarakan di Yogyakarta. Setiap daerah mengirimkan empat relawan terbaik dan bergabung dengan relawan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta. Pemuda yang memiliki cita-cita menjadi motivator ini selalu aktif dalam Bakti sosial, pengobatan gratis, khitan massal, nikah massal, dan berbagai kegiatan sosial lainnya.
“Saya pernah nyoba pakai kaki palsu, tapi ndak enak. Saya tidak bebas bergerak mengangkut kornet superqurban, obat-obatan, atau keperluan lainnya” tuturnya. Ia tidak pernah berpikir untuk menggunakan kaki palsu. Satu kaki kini sudah amat cukup baginya. 

Source: muslimdaily

ARTIKEL TERKAIT: