7/10/2013

Para Mualaf Ingin Lebih Dekat Dengan Masyarakat Islam


WASHINGTON, muslimdaily.net, - Diabaikan dalam pertemuan keluarga atau keterlibatan dengan komunitasnya, mualaf di Amerika merasa sendirian saat merayakan bulan suci Ramadan.

"Saya melihat bagaimana mualaf diabaikan," kata Vaqar Sharief, mantan koordinator mualaf untuk Masyarakat Islam Delaware, kepada Huffington Post sebagaimana dilansir onislam.net, Rabu 10 Juli.

"Banyak dari mereka berhenti datang dan mereka meninggalkan agama."

Sharief dan istrinya mengadakan kelas di masjid Delaware dengan mengajari para mualaf bagaimana shalat dan ajaran dasar Islam lainnya.

"Anda harus membuat orang-orang merasa menjadi bagian dari keluarga," kata Sharief.

"Ramadhan adalah kesempatan besar. Anda harus membuat mereka merasa istimewa. "

Umat Islam biasa mengadakan pertemuan-pertemuan keluarga untuk berbuka puasa bersama. Tapi ini membuat banyak mualaf merasa terisolasi karena banyak umat Islam lupa untuk mengundang mereka untuk bergabung berbuka puasa dan memberi mereka rasa berada di satu keluarga.

Paul K. DeMelto dari Cleveland memeluk Islam tahun lalu. Beliau juga telah mengikuti kursus bagi mualaf untuk lebih memahami ajaran Islam dan menyewa tutor Arab untuk membantunya belajar membaca Alquran. Pria penjual roti 40 tahun ini juga telah mengubah gaya hidupnya dan berhenti minum alkohol untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Tapi dia masih menemukan kesulitan besar dalam pergaulan dengan teman-teman Muslim baru.

"Satu hal yang saya harapkan untuk merasa lebih lengkap dalam beralih ke Islam adalah keterlibatan dalam komunitas," kata DeMelto.

Para mualaf mengeluh bahwa mereka merasa terisolasi dan kurangnya rasa memiliki setelah perpindahan agama mereka.

"Konsep kebersamaan dan bersatu adalah sesuatu yang sangat penting," kata Imam Talal Eid dari Quincy, Massachuset.

Caroline Williams, seorang mualaf, mengatakan dia sering mendapat kesan bahwa umat Islam adalah ramah dan mudah bergaul.

"Bagian yang menarik saya adalah bagaimana disambut semua orang di masjid," kata Williams, 32 tahun warga New Orleans yang menjadi mualaf pada tahun 2010.

Tapi dia mengatakan bahwa dia sekarang merasa diabaikan dan ditinggalkan pada hari libur besar oleh sesama Muslim.

Bagi Kelly Kaufman juga menyuarakan pendapat serupa.

"Ini adalah pengalaman yang sangat kesepian yang saya tidak berpikir banyak orang tahu tentang ini," kata Kaufman, yang mememluk Islam pada tahun 2010.

Mengulurkan tangan membantu para mualaf, Kaufman membuat sebuah situs web di mana para mualaf di wilayah Chicago  dan Muslim lainnya dapat menghubungi satu sama lain dan memposting artikel bermanfaat tentang sholat, pelajaran bahasa Arab, atau halal dan haram dalam Islam.

Beberapa tokoh Muslim menyarankan bahwa para mualaf harus pergi ke masjid yang menyelenggarakan buka puasa bersama dan mencoba untuk mencari teman-teman di sana.

"Orang-orang ramah, tapi saya tidak merasa seperti keluarga," kata Williams, yang shalat di Masjid Abu Bakar Al Siddique di New Orleans. Dia mengatakan merindukan memiliki hubungan dekat dengan umat Islam yang lain.

Melangkah untuk membantu mereka menjadi bagian dari Islam, Islamic Society of Boston Cultural Center, masjid terbesar di New England, menyelenggarakan acara bulanan bagi para mualaf.

ARTIKEL TERKAIT: